This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 29 September 2020

Mahasiswa STIEKIA Raup Dana Hibah Dua Proposal PHP2D Dari Kemendikbud

Reporter: Novianita Sari, Vera Sintya Dwiyanti

Editor: Novianita Sari



Prestasi baru dicetak oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA) dan Gabungan Mahasiswa Ilmiah (GMAIL) dengan lolosnya proposal PHP2D Tahun 2020 yang didanai oleh kemendikbud. PHP2D merupakan kegiatan pembinaan dan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa melalui 
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Salah satu mahasiswi dari penerima program PHP2D perwakilan HMJ Akuntansi, Maret Athin Mubaidlo‟ah menjelaskan bahwa konsep dari kegiatan pengabdian masyarakat kami yaitu kegiatan budidaya 
maggot semacam telur dari lalat begitu. Karena untuk pakan lele dan ternak lain dipikir sangat prospek. Lele diminati masyarakat, serta diharapkan dari program ini adalah bisa membatu menjadikan Desa Sukowati sebagai Desa Bisnis di Bojonegoro.

Budidaya lele ini nantinya tidak usah membelikan makanan apapun karena maggot juga kaya akan protein sehingga bagus untuk konsumsi lele. Karena maggot ini nantinya akan digunakan sebagai makanan dari lele itu sendiri.

Di sisi lain, ada pula dari Ketua Gabungan Mahasiswa Ilmiah (GMAIL), Nurrahman Luckysyah yang menjelaskan pemilihan judul tentang Pengadaan Pelatihan Tanaman Hidroponik Dalam Upaya Ketahanan Pangan Selama Masa Pandemi Covid-19 Di Desa Ngrejeng, Purwosari, Bojonegoro. 

“Jadi awal mengapa saya dan teman-teman memilih tentang hidroponik itu karena kita cari ide yang kira￾kira unik, bisa sangat bermanfaat di desa tersebut, dan kekinian karena hidroponik yang kita terapkan itu 
hidroponik tanaman pakcoy. Karena tanaman itu kan lagi viral jadi kita memilih tanaman tersebut. Terus alasan mendasar lainnya adalah karena sekarang masa pandemi covid-19, kita berfikir bahwa bagaimana suatu desa bisa menciptakan ketahanan pangan di desa tersebut dengan pemberlakuan masa karantina di rumah masing-masing. Kalau kita ke pasar tidak mungkin karena nanti akan menciptakan klaster baru”. Ucap Ketua Gmail ini.

Sementara itu, Ketua STIEKIA Bojonegoro Drs. Tri Suwarno, SH., MM sangat mengapresiasi atas capaian dari mahasiswa dan berharap prestasi semacam ini bisa ditingkatkan agar STIEKIA Bojonegoro bisa dikenal luas masyarakat Bojonegoro maupun Nasional dengan prestasi-prestasi yang membanggakan untuk Kabupaten Bojonegoro. 

Keberhasilan mahasiswi ini pasti menjadi kebanggaan sekaligus mengharumkan almamater STIEKIA. Mereka sudah membuktikan kualitas dan mutu mahasiswa STIEKIA tidak kalah dengan Perguruan Tinggi lainnya. (*)



Senin, 28 September 2020

Cara Menjaga Kesehatan Dimasa Pandemi Covid-19

Reporter: Isnaeny Maulidha

Editor: Novianita Sari

Dengan mengenal karakteristik virus corona di atas, maka ada sejumlah langkah yang bisa kamu lakukan agar tidak tertular COVID-19. Langkah ini bisa kamu terapkan mulai dari diri sendiri atau sedang berada di tempat umum. Apa saja cara menjaga kesehatan tubuh saat virus corona atau covid-19.

1. Mencuci tangan
Mencuci tangan dengan sabun menjadi salah satu cara menjaga kesehatan tubuh saat virus corona atau covid-19 paling efektif untuk mencegah penyebaran atau penularan virus ini. Awali dengan 
membasahi kedua telapak tangan menggunakan air mengalir. Lalu sabuni telapak tangan dan gosok semua permukaan kulit tangan, termasuk telapak dan punggung tangan, sela-sela jari, minimal selama 20 detik. Kemudian bilas hingga bersih dengan air mengalir dan keringkan menggunakan kain bersih atau tisu.
Sering-seringlah cuci tangan dengan sabun, seperti sebelum makan, setelah batuk atau bersin, setelah memegang barang di tempat umum seperti pegangan pintu, tangga, dll. Kamu juga perlu cuci tangan setelah dari luar rumah.

2. Siap sedia hand sanitizer
Jika tidak ada tempat untuk cuci tangan, kamu bisa menggantikannya dengan hand sanitizer. Ada banyak ragam produk hand sanitizer di pasar dengan kandungan alkohol mulai dari 30%. WHO 
merekomendasikan masyarakat menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60%. 
Sebab, hand sanitizer dengan kandungan 60% atau lebih bisa membunuh virus COVID-19 yang punya ukuran cukup besar, yakni 400-500 mikrometer. Jika kandungan alkohol pada hand sanitizer tidak 
sampai 60%, maka ini hanya efektif membunuh bakteri yang berukuran lebih kecil, yakni 0,5-5 mikrometer. Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu membawa sebotol kecil hand sanitizer dengan 
alkohol 60% atau lebih saat bepergian.

3. Jangan sentuh wajah
Ini sepele tapi sulit, karena dikutip dari CNN Indonesia, Maret 2020, penelitian Sydney University tahun 2015 menyatakan seseorang menyentuh wajah rata-rata 23 kali per jam. WHO menyebutkan virus 
corona bisa masuk ke tubuh manusia melalui mulut, hidung, dan mata. Oleh karena itu,cara menjaga kesehatan tubuh saat virus corona, kamu harus berlatih untuk mendiamkan tangan agar tidak menyentuh wajah selama minimal satu menit. Jika sudah berhasil, tambahkan menjadi 5 menit, dan latih terus, 
sehingga kamu bisa benar-benar meminimalkan kebiasaan sentuh wajah.

4. Konsumsi makanan bergizi
Minum vitamin atau suplemen bisa meningkatkan daya tahan tubuh guna mencegah paparan virus corona. Namun para ahli gizi sepakat, kita lebih baik mendapatkan vitamin dan mineral secara langsung dari sumbernya daripada konsumsi dari obat atau cairan olahan.
Vitamin C berperan penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena bisa memacu produksi sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Sayuran yang kaya vitamin C antara lain brokoli (dalam semangkuk) sebanyak 50mg, 1 buah paprika seberat 45 g mengandung 109.1 mg, bayam sebanyak 28 miligram (mg) per 100 g. Kamu juga bisa menemukan vitamin C di buah-buahan seperti jeruk dengan kandungan 59-83 mg vitamin C per buahnya, jambu biji dengan kandungan 200 mg, pepaya 94 mg, kiwi 84 mg, stroberi 52 mg, dan nanas 39-49 mg. Konsumsi minuman berbahan rempah-rempah seperti jahe 
merah juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia.

5. Jaga kebersihan lingkungan
Membersihkan rumah dan sekitar meja kerja di kantor bisa meminimalkan paparan virus. Gunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan benda yang sering disentuh, seperti gagang pintu, keyboar dan mouse, alat dapur, sakelar lampur, gagang laci, pegangan tangga.
Untuk mendisinfeksi, gunakan air dan sabun, atau cairan yang mengandung alkohol. Jangan lupa menggunakan sarung tangan sekali pakai saat bersih-bersih dan mendisinfeksi.

6. Bawa alat makan sendiri
Bawalah selalu alat makan sendiri. Pastikan alat makan dicuci dengan sabun hingga bersih. Karena virus corona memiliki daya tahan yang kuat di permukaan logam. Dengan membawa alat makan sendiri, 
kamu akan lebih mengetahui kebersihan peralatan tersebut. Pastikan jangan sampai terjadi penggunaan alat makan bersama-sama. Karena virus corona bisa menyebar lewat percikan air liur yang menempel di 
sendok.

7. Tidak melakukan kontak fisik
Virus corona bisa menyebar hanya dengan bersalaman. Oleh karena itu, saat ini kamu lebih baik jangan sembarangan memegang tangan orang lain. Hindari bersalaman, ganti dengan salam namaste atau menaruh tangan di dada.

8. Social distancing
Cara menjaga kesehatan tubuh saat virus corona bisa dapat kamu lakukan dengan menjaga jarak dengan orang lain saat beraktivitas bersama, minimal 1 meter. Kenapa 1 meter? Karena ini adalah jangkauan percikan air yang bisa menyebar dari mulut saat seseorang bicara. Amat disarankan untuk tidak pergi ke luar rumah apabila kamu sedang merasa sakit atau kurang sehat. Ini bisa membahayakan karena bisa jadi kamu menularkan penyakit pada orang lain.

9. Menghindari transportasi umum
Jika terpaksa untuk bepergian, jangan menggunakan transportasi umum. Karena di transportasi umum banyak orang saling berbaur. Kamu tidak bisa melakukan social distancing di dalam transportasi 
umum. Tak jarang, malah sesama penumpang transportasi umum berdesak-desakan, sehingga rawan terjadi penularan virus corona.

10. Membersihkan meja saat akan duduk di restoran
Jangan asal duduk dan meletakkan kedua tangan di meja saat tiba di restoran. Bersihkan dulu meja menggunakan tisu kering dan tisu basah yang mengandung alkohol minimal 60%. Karena kamu tidak 
tahu siapa yang sudah menggunakan meja itu. Disinfeksi meja makan penting untuk mematikan virus yang menempel.(*)
Dikutip dari: https://www.buddies.co.id/

Siapkah Kita Beraktivitas Dalam Kondisi New Normal ?

Reporter: Novianita Sari

Editor: Novianita Sari

Saat ini Indonesia tengah berusaha menjalankan new normal pada kondisi pandemi virus Corona (COVID-19). New normal dikatakan sebagai cara hidup baru di tengah pandemi virus corona yang angka kesembuhannya makin meningkat. Beberapa daerah telah membuat aturan terkait penerapan new normal sembari terus melakukan upaya pencegahan COVID-19. Masyarakat diharapkan mengikuti aturan tersebut dengan selalu menerapkan protokol kesehatan.

Pada prinsipnya, new normal adalah fase di mana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan dan publik diperbolehkan untuk kembali beraktivitas dengan sejumlah protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah sebelum ditemukannya vaksin. Langkah ini dijalankan pemerintah untuk memulihkan produktivitas perekonomian masyarakat agar kembali bergeliat setelah terpuruk di kuartal pertama. Adapun pada kuartal I-2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebesar 2,97%. Selain oleh faktor pertumbuhan positif pada kuartal I 2020, faktor rupiah yang terapresiasi cukup signifikan oleh mekanisme pasar.

Dilema Dibalik New Normal

Selama ini kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan berbagai pembatasannya di tengah pandemi sungguh membawa dampak bagi dunia usaha. Memang tidak ada yang salah dari kebijakan tersebut, karena memang sebagai upaya untuk memutus penyebaran virus corona itu sendiri. Namun, seperti kita rasakan bersama bahwa dampaknya terhadap perekonomian otomatis tak bisa kita hindari. Semua itu bisa kita lihat kolapsnya dunia usaha akibat dari lesunya produktifitas dan minimnya penjualan.

Pandemi ini memang memberi permasalahan kompleks. Jujur harus kita akui bersama bahwa hidup berdampingan dengan virus Corona yang hingga kini belum ada vaksinnya bukanlah perkara yang mudah. Pasalnya, banyak mata rantai yang perlu terprokteksi. Mulai pemotongan mata rantai penularan sampai dengan ketersediaan tenaga medis di negeri ini. Begitupun bagi yang tidak terdampak langsung dengan covid-19, sudah tentu membawa dampak ekonomi akibat pelaksanaan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Wajar adanya, jika tatanan nomal ini sejatinya dinantikan oleh masyarakat demi sirkulasi atau kegiatan perekonomian rakyat. Kalau periode PSBB terus diperpanjang, nafas ekonomi sebagian besar dunia usaha termasuk BUMN akan semakin sulit. Maka new normal memberikan harapan baru bagi kembalinya nafas ekonomi. Sepanjang lokasi kantor ada di zona hijau dan protokol covid dijalankan dengan ketat, saya kira kebijakan ini bisa ditoleransi.

Pemberlakuan new normal pada akhirnya memang harus diberlakukan dengan beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku ketat. Intinya ekonomi diupayakan bergerak secara gradual sambil menjalankan protokol new normal dengan ketat, law enforcement diberlakukan tegas dan konsisten. Sektor ekonomi yang paling dibutuhkan masyarakat harus mendapat prioritas, yakni kebutuhan dasar seperti makanan dan kesehatan. Hanya saja, pemerintah pun harus lebih mengantisipasi ketidak disiplinan masyarakat dan pelaku usaha.

Pemerintah memilih untuk menerapkan tatanan kehidupan normal baru atau new normal saat masih bertarung dengan pandemi virus Corona (COVID-19). Meski menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, keputusan ini diambil demi memulihkan kondisi ekonomi. Pandemi yang mengancam kesehatan jika disandingkan dengan sosial-ekonomi seperti dua sisi mata uang yang selalu beriringan. Ketika sektor kesehatan terancam, maka sisi ekonomi ikut terhantam. Itulah, sejatinya yang saat ini kita rasakan secara kolektif.

Oleh karena itu new normal ini menjadi sangat perlu dan penting. New normal seperti kita ketahui tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi negara lain juga sudah membuka dan melakukan hal yang sama. Semua itu terus dilakukan sampai vaksin nanti ditemukan. Supaya new normal ini berjalan dengan baik, tentu dibutuhkan juga kerja sama dan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk mengikuti protokol kesehatan sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Presiden Joko Wododo.

Gagalnya New Normal

Melalui normal baru tentu protokol menggunakan masker, cuci tangan, kemudian tes temperatur dan yang lain, semua itu berlaku untuk semua sektor kehidupan bermasyarakat dan new normal itu butuh kerja sama yang erat dari segi medis, kesiapan medis untuk mengantisipasi segala persoalan. Kemudian dari segi masyarakat itu sendiri, kesiapan masyarakat dan kedisiplinan masyarakat. Kemudian dari sektor-sektor usaha itu sendiri, termasuk regulatornya kementerian dan lembaga.

Harapan-harapan kita terhadap new normal ini harus siap dengan kenyataan. Artinya, jika era new normal memang bisa mendorong perekonomian meskipun sangat lambat. Selain itu, efek dari new normal ini juga tidak akan instan sehingga tidak bisa langsung mendorong laju pertumbuhan ekonomi selajutnya.

Artinya, ekonomi RI masih bisa baik namun bukan berarti akan terus selamanya berjalan mulus. Sebab jika situasi seperti ini terus berlanjut ekonomi Indonesia bisa tumbuh minus di kuartal II-2020 mendatang. Apalagi jika kebijakan penetapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terus dijalankan. Maka bukan tidak mungkin ekonomi akan tumbuh negatif karena tidak ada kegiatan ekonomi yang dilakukan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 masih sangat berprospek akan minus. Sekiranya bisa kita simpulkan bahwa memasuki era new normal membutuhkan proses. Belajar dari beberapa negara bahkan sudah mulai menghindari situasi buruk ini. Salah satu buktinya adalah dengan membuka kembali negaranya dari kebijakan lockdown (penguncian).

Memang tidak mudah karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Indonesia pun kini bersiap untuk menjalani new normal dengan melakukan transisi pembukaan PSBB pada beberapa daerah. Proses transisi ini dilakukan pada daerah-daerah yang kurvanya sudah mulai turun.

Meskipun begitu, Indonesia perlu berhati-hati ketika membuka kembali aktivitas sosial ekonominya. Sebab jangan sampai gelombang kedua akan datang dan justru bisa semakin memperburuk perekonomian negara. Bisa kita ketahui bersama bahwa melalui new normal ini ada yang gagal di tahap awal sehingga harus di-lockdown lagi seperti terjadi Beijing, Tiongkok dan Seoul di Korea Selatan. Wajar adanya, jika negara kita Indonesia sangat berhati-hati dalam menerapkan new normal kali ini dengan tetap berpijak pada protokol kesehatan.(*)

Peran Mahasiswa Sebagai Tonggak Perubahan Bangsa

Reporter: Abdurahman Arianto 

Editor: Novianita Sari


Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri dari sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas. Sebagai mahasiswa tentunya mereka memikul beban dan tanggug jawab yang cukup berat, bagaimana tidak, pasalnya sebagai mahasiswa harus mampu memberikan contoh hal yang lebih baik di kalangan masyarakat maupun khalayak umum. Sebagai mahasiswa kita juga dituntut agar lebih kritis dalam menyikapi sebuah masalah, agar dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan tidak emosi. 

Di perguruan tinggi sendiri banyak tipologi mahasiswa, ada yang hedonis, akademis, agamis,apatis dan aktivis. Apapun tipologi mahasiswa yang sedang mereka jalani tentunya ada baik dan buruknya di setiap sisi dan yang terpenting alangkah baiknya tidak menjadi mahasiswa yang kupu-kupu atau bisa di sebut kuliah pulang tanpa bersosialisasi dalam lingkungan kampus, karena ketika sifat kita yang acuh dan tidak mau tahu tentang apapun akan menjadikan diri kita terjebak dalam zona yang merugikan, karena ketika nantinya kita sudah menyandang S1 maka mahasiswa tersebut harus mampu membawa perubahan dimanapun mereka berada.   

Sebagai mahasiswa tentunya mempunyai peran yang akan mereka bawa di masyarakat nanti, meskipun dalam perguruan tinggi kita sangat pintar dalam akademis, sangat pandai dalam bersosial, ketika nantinya kita kembali ke kampung halaman harus kembali lagi ke titik nol, dimana kita harus belajar kembali bagaimana struktural masyarakat dan bersosialisasi di masyarakat, karena apa?, karena ketika kita kembali ke masyarakat dan langsung terjun di sana, maka mahasiswa tersebut akan bertindak seenaknya sendiri dan akan terus memberi argumen yang entah di sadari atau tidak belum tentu di terima di masyarakat, maka dari itu kita harus kembali lagi ke nol dan harus belajar lagi ketika kita kembali ke kampung halaman atupun dimanapun kita berada, dan harus bisa mengontrol emosionalnya agar tetap layak menjadi seorang yang terpelajar. 

Peran mahasiswa yang nantinya akan dipikul ialah peran sebagai agen of changel, agen of innovasi, agen of control. Sebagai agen perubahan tentunya mahasiswa akan dituntut lebih sebagai pembawa perubahan dalam bangsa kita, perubahan apa yang akan dilakukan itu menjadi PR mahasiswa yang nantinya akan menyandang gelar S1, apapun perubahan yang di bawa mahasiswa semoga saja perubahan tersebut menyangkut banyak orang yang termotivasi, bukan saja menjadi agen perubahan, sebagai mahasiswa harus pandai juga menjadi contol sosial dimasyarakat dan di lingkungan dimanapun mereka berada, dengan menjadi agen control sosial diharapkan masalah-masalah yang ada dapat mereka control dengan baik dan bijaksana. 

Marilah kita sebagai mahasiswa yang diharapkan oleh masyarakat dan bangsa kita ini, bisa menjadi mahasiswa yang menerapkan peran dan fungsinya sehingga bisa menjadi penerus bangsa. Terlebih lagi, untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dan bisa menyuarakan aspirasinya dalam menghadapi problematika yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat. Mulai belajar mengemban amanah dengan baik, bertanggu jawab, berusaha mengelola masalah dengan bijak, dan mengambil keputusan secara tepat serta bisa mengelola lingkungan yang ada di sekitarnya. (*)

Dilema Pendemi Covid-19 Dan Pembelajaran Jarak Jauh (Daring)

Reporter: Abdurahman Arianto

Editor: Novianita Sari

      Pandemi Covid-19 muncul pertama kali di bulan Februari, dan kasus positif pertama berada di Wilayah Jawa Barat tepatnya di Bandung. Akibat dari kasus positif tersebut pemerintah langsung tanggap dalam mengambil tindakan, dan tindakan yang diambil diranah pendidikan adalah melakukan pembelajaran jarak jauh, sehingga menimbulkan berbagai kebijakan yang ada di dunia Perguruan Tinggi (PT). Salah satu kebijakan yang diambil adalah Kuliah Daring, alasannya adalah dengan salah satu cara menekan virus tersebut (Khususnya Covid-19) dengan membatasi ruang pertemuan, maka kuliah daring menjadi alternatif. Tak ada pilihan lain, mau meliburkan tentu tidak mungkin. Tentu itu sangat aneh. Apakah hanya gara-gara Covid-19 kuliah libur? Kebijakan Pemerintah untuk mengurangi pertemuan bisa dilaksanakan, tetapi kuliah tetap ada. Maka, kuliah dari lah menjadi salah satu solusi alternatif. 

      Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah sedemikian mudah melaksanakan kuliah daring?. Tentunya bagi mahasiswa yang sekarang berada di era 4.0 mau tidak mau mereka harus tanggap terhadap teknologi, tidak usah diragukan lagi mahasiswa sekarang, bahkan kebanyakan dari mereka untuk mencari bahan tugas kuliah mengandalkan dari teknologi dan beberapa referensi dari buku, bukan saja mahasiswa dosen pun akan dituntut untuk mahir dalam teknologi agar dapat mengoptimalkan pembelajaran jarak jauh (daring), tentunya dosen yang masih belum faham tentang teknologi atau bisa di sebut dengan gaptek, akan cukup sulit untuk melakukan pembelajaran jarak jauh, jadi apakah mudah melakukannya? Kalau dibilang mudah bisa sangat mudah, karena apa? Mahasiswa cukup mengikuti metode dosen dalam kuliah, jadi tidak cukup sulit untuk melaksanakannya.

      Lalu yang menjadi salah satu hambatan bagi para mahasiswa itu sendiri, mereka akan melaksanakan daring dimana? Apakah akan dilakukan dirumah? Bisa saja dilakukan dirumah tetapi perlu diingat pembelajaran daring ini membutuhkan kecepatan akses cukup tinggi, jadi bisa bagi mereka untuk melakukan pembelajaran daring dirumah bilamana rumahnya terpasang wifi, akan cukup sulit bagi mahasiswa yang tinggal di pedesaan, tentunya kuota internet saja tergantung pada signal yang ada, mau tidak mau mereka harus mencari wifi guna mengoptimalkan dalam mengikuti kuliah daring.

      Jadi sekarang apakah sudah efektif dalam mengambil kebijakan kuliah daring? Kalau dibilang sangat efektif tentunya tidak bisa, karena jauh lebih efektif tatap muka daripada daring, tetapi mau tidak mau keadaan yang menuntut diadakannya kuliah daring, dengan mempertimbangkan kesehatan masyarakat pilihan pembelajaran jarak jauh (daring) tentunya cukup efektif, tinggal bagaimana seorang dosen mengemas materi dan dapat diterima dengan maksimal oleh mahasiswa.(*)

Makna Dibalik Akreditasi

Oleh: Hermawan B. Prasetiyo, SE, MSA, Ak.
Kaprodi Akuntansi, Hermawan B. Prasetiyo, SE., MSA, Ak 

Editor: Novianita Sari

      Akreditasi sejatinya adalah sebuah harapan bagi setiap perguruan tinggi. Tak terkecuali bagi STIE Cendekia yang pada tahun 2019 lalu, salah satu prodinya yakni akuntansi memperoleh akreditasi B. hal ini tentunya menjadi kebahagiaan bagi semua civitas akademika di STIEKIA. 

      Tidak mudah untuk mendapatkan akreditasi B. kami segenap dosen dan karyawan serta seluruh mahasiswa terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pencapaian tersebut. Lama waktu yang dibutuhkan dalam proses persiapan akreditasi adalah berbulan-bulan bahkan mendekati hitungan tahun. Kami berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan angka akreditasi itu menjadi B. dan ini juga tidak lepas dari doa seluruh civitas akademika dan pihak-pihak lain yang cinta terhadap prodi akuntansi secara khusus dan STIEKIA secara umum. Lalu apa makna sebenarnya dari akreditasi itu? Apakah hanya sebagai simbol bergengsi yang dimiliki oleh prodi? Atau sebagai cerminan pelaksanaan Tri Dharma yang sudah dilakukan? Atau bahkan tantangan yang harus dikejar oleh STIEKIA? Berikut beberapa makna akreditasi yang dijelaskan oleh Pak wawan Selaku Kaprodi Akuntansi. 

1. Akreditasi bermakna harapan 
    Harapan bisa berarti harapan semua pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal. Pada aspek internal terdapat yayasan, kampus, dosen, karyawan, dan mahasiswa. Yayasan tentu menginginkan setiap prodinya memiliki akreditasi yang baik. Hal ini dikarenakan, yayasan selalu mempunyai visi misi yang harus diwujudkan melalui lembaga yakni STIEKIA untuk mencapainya. Nah, salah satunya adalah akreditasi. Jika akreditasi semakin baik, maka yayasan merasa bangga ikut mengantarkan lembaganya menjadi perguruan tinggi yang baik dan bisa dikenal oleh masyarakat luas. Kampus, makna harapan terhadap akreditasi adalah bahwa kampus STIEKIA akan dikenal di masyarakat sehingga menyebabkan banyak mahasiswa yang ikut daftar untuk kuliah di STIEKIA. Semakin besar mahasiswa yang kuliah, maka kampus akan semakin maju, baik dalam hal prestasi maupun prasarananya. Dosen, dosen berharap bahwa dengan adanya akreditasi, maka salah satu benefitnya adalah akan ada banyak hibah-hibah yang diberikan baik melalui pemerintah maupun swasta yang juga sekaligus menjalin kerja sama dengan lembaga dan dosen sebagai tenaga ahlinya dalam memberi pelayanan, baik kepada mahasiswa maupun kepada masyarakat. Karyawan, dengan akreditasi meningkat yang berdampak pada jumlah mahasiswa yang akan berkuliah maka secara tidak langsung kesejahteraan kepada karyawan juga akan meningkat. Kesejahteraan juga bermakna bahwa kampus akan menjadi salah satu tempat berpijaknya karir bagi alumninya sendiri. Mahasiswa, bagi mahasiswa akreditasi sangat penting. Salah satu utamanya adalah agar saat lulus nanti mahasiswa mendapat pengakuan dari pihak ekskternal terutama bagi yang mencari pekerjaan. Pihak penerima kerja akan lebih percaya kepada kampus yang meluluskan mahasiswanya dengan akreditasi prodi yang baik. 

2. Akreditasi bermakna capaian 
   Akreditasi bermakna capaian adalah bahwa selama menjalankan proses tri dharma perguruan tinggi yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat, terdapat capaian yang diraih. Semisal pada sisi pendidikan dan pengajaran, dosen melakukan proses perkuliahan dengan menggunakan metode-metode kreatif seperti video tutorial atau memberikan bekal praktik (bisa juga terjun langsung ke lapangan untuk lebih memberikan pengalaman kepada mahasiswa) dalam proses belajar mengajar. Semua proses itu menjadi capaian dari target yang telah dibuat. Lalu pihak eksternal sebagai lembaga independen yakni BAN-PT (yang mengeluarkan surat akreditasi) “memotret” kondisi real saat melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran di kampus. Selain menjadi capaian internal, metode ini dirasa bagus, karena akan meningkatkan poin akreditasi untuk menjadi lebih baik lagi. 

3. Akreditasi bermakna evaluasi 
   Pada aspek yang ketiga ini, lebih mengarah pada sudut pandang internal. Jika akreditasi kita baik, maka bukan berarti tidak ada yang dapat dievaluasi. Tergantung pencapaian yang akan kita inginkan. Jika target yang di inginkan tinggi, walaupun mendapat akreditasi B, namun tetap tidak pusa terhadap nilai tersebut, dan berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang maksimal. Nah, akreditasi menjadi titik dimana bisa mengetahui “start” untuk saat ini dan dimana capaian “finish” yang akan ditetapkan. Maka dengan begitu perubahan akan selalu tercipta dan membuat agar bergerak lebih maju tanpa terpaku pada nilai akreditasi. 

4. Akreditasi bermakna tantangan
   Untuk aspek yang keempat adalah kelanjutan dari point nomor 3. Pointnya adalah “berani tidak kita membawa dampak positif lebih besar kepada masyarakat?” acuannya bukan hanya nilai akreditasi semata tapi sudah skala global yang dipikirkan. Mungkin saja sudah bangga saat mendapatkan akreditasi B sementara kampus lain dan prodi lain masih di bawah itu. Nah, ini bukanlah tantangan yang dimaksud. Dalam bahasa populernya adalah “bergerak dari zona nyaman”. Kalau apa yang dilakukan saat ini bisa dikatakan mudah dan saat meraih kesuksesan bisa menikmatinya maka itu sedang tidak berada pada zona tantangan, melainkan zona nyaman. 

      Zona tantangan adalah tidak peduli seberapa nilai saat ini, tidak peduli kampus lain lebih tinggi atau rendah dari kampus kita dalam hal akreditasi, tetapi kata kuncinya adalah kita sebagai agent of change,seberapa dekat bisa berevolusi dengan perubahan dan perkembangan zaman. Bahkan menjadi sebuah yang unik dan independen diantara semua (berbeda dengan yang lain yang sudah ada) juga bisa dikatakan suka sekali tantangan. Seperti pak wawan ini yang mengidolakan bapak presiden kita yang sekarang, yakni bapak Joko Widodo, bahwa beliau bekerja tanpa melihat kanan dan kiri namun fokus kepada “gerbong” yang dibawanya untuk sampai kepada suatu titik dimana Indonesia Maju dan sanggup melampaui berbagai tantangan. 

      Kesimpulannya adalah berikan kepada para pembaca khususnya kepada mahasiswa, jikalau kalian sanggup maka capailah target-target yang sudah diberikan oleh kampus maupun prodi, karena itu sangat baik untuk diri kalian dalam hal pengembangan diri. Namun jika hal itu sudah dirasakan mudah (target￾target dari kampus kalian untuk belajar), maka bersiaplah untuk mengambil “porsi” yang sebenarnya yakni hidup dengan sejuta tantangan, karena tantangan itu ada di dalam individu masing-masing dan tidak bisa dicetak oleh sistem atau lingkungan apapun, namun tantangan sangat mungkin bisa dipelajari.

Sektor Ekonomi Dalam Masa Pandemi

Reporter: Vera Sintya Dwiyanti

Editor: Novianita Sari

      Virus corona pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada bulan Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia. Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus tersebut. 

      Menyikapi kasus ini pemerintah Indonesia membuat berbagai kebijakan. Mulai dari penerapan Work From Home (WFH), sosial distancing, physical distancing, sampai diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah.

      Dampak dari pandemi virus corona merabah ke segala aspek terutama pada sektor perekonomian negara Indonesia sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi sangat tidak stabil. Saat ini perekonomian Indonesia sedang mengalami tekanan yang berat, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran negara. Konsumsi dan investasi sangat menurun, penerimaan APBN berkurang, sementara pengeluaran terus bertambah untuk penanganan wabah dan penambahan jaminan sosial. 

      Terhambatnya aktivitas perekonomian secara otomatis membuat pelaku usaha melakukan efesiensi untuk menekan kerugian. Akibatnya banyak pekerja yang dirumahkan atau bahkan diberhentikan (PHK). Perusahaan hanya akan merekrut tenaga kerja yang memiliki produktivitas tinggi dan mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus (multitasking).

      Seiring dengan teknologi yang semakin canggih, lapangan pekerjaan akan berubah menjadi sektor robottik dan tenaga manusia sudah tidak lagi difungsikan. Lapangan usaha yang akan berkembang selama pandemi covid-19 adalah usaha yang berhubungan dengan teknologi. Tenaga kerja yang dibutuhkan juga adalah tenaga yang memiliki kemampuan di bidang teknologi. Jika sebelumnya pekerja diharapkan untuk bekerja di tempat kerja, maka selama pandemi ini pekerja harus beradaptasi dengan penerapan Work From Home (WFH). 
 
      Perubahan tidak akan terjadi dengan berdiam diri dan menunggu berakhirnya pandemi ini. Perekonomian ditengah tantangan pandemi telah digulirkan agar perekonomian Indonesia dapat bergerak dan produktivitas masyarakat dapat pulih kembali. Masyarakat harus berperan secara aktif dengan menaati protokol kesehatan.