This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2020

PENA-PENA KECIL

Oleh: Novianita Sari 

Editor: Novianita Sari


Ini adalah kisah tentang seorang wanita. Jauh dari kesan sempurna. Terjebak dari dunia keheningan, yang menyertai pelik kehidupan. Sang wanita tak pernah merasakan indahnya nyanyian burung, desikan ranting atau desingan peluru sekalipun. Pun tak pernah bisa mengungkapkan, menyanyikan ataupun meneriakkan. 

Ini adalah kisah tentang seorang wanita, yang hidup dengan sebuah pena teman mengarungi lautan kehidupan. 

Hidup jauh dari kesan sempurna ukuran manusia. Intan, seorang penulis handal yang karyanya tak dapat diragukan lagi. Tulisannya telah bisa mengelilingi dunia. Mengalami sebuah kehidupan yang sangat tidak diinginkan oleh semua orang. Berasal dari keluarga yang berada di bawah kesan sederhana. Tak dapat bicara, pun mendengar tak diharapkannya lagi. 

Intan kecil menangis saat dia menjadi bahan kelakar orang tak beradab. Walau bunyi tak mampir di kedua telinganya. Namun, dia tetap bisa merasakan jarum-jarum tajam yang ditusukkan dari cercaan makhluk-makhluk berotak kerdil. 

Intan kecil belajar mengenali huruf, membaca isyarat dan menulis kata-kata indah. Setiap hari, ocehan tajam dari orang-orang kejam menjadikan intan bukan sekedar sekuntum bunga yang layu karena memiliki kekurangan. Dia tidak bisa marah, berteriak ataupun membentak orang-orang itu. Semua yang ia rasakan terukir di atas kertas putih yang dinodai pena-pena kecil bertuliskan kata-kata yang mengandung ribuan makna. 

Kini, Intan kecil berubah menjadi Intan dewasa yang memiliki paras yang cantik. Rambutnya yang panjang. Membuat para gadis iri dengannya. Tubuhnya yang elok menggugah birahi mata laki-laki berhidung belang. Intan kecil yang selalu sedih, kini tak lagi ada. Dia benar-benar berubah menjadi wanita pujaan kaum adam. Walau keterbatasannya masih melekat dari kehidupannya, tapi kini ia tak lagi merana. Semua kesedihannya telah bersarang di atas kertas yang selalu ia isi dikala ia sedih. 

Malam telah berlalu. Kini, mentari telah siap menampakkan cahayanya. Tak ada awan ataupun penghalang lainnya. Cahaya matahari langsung mendarat ke permukaan bumi menghiasi panorama alam bumi ini. Sinarnya mencairkan tumbuhan yang kaku akibat terkena sengatan angin malam. Ribuan tetesan embun yang jatuh dari helai-helai daun ikut mengelokan pagi itu. Terdenganr kicauan burung saling berbalaskan untuk menganggunkan dirinya. Namun, tidak dengan Intan. Mukanya tampak layu, tak ada sedikitpun keceriaan yang terlukis di wajahnya. Intan hanya tertegun sendiri di kamarnya, memikirkan masa depannya yang dianggap tak akan cerah. Beberapa detik kemudian, Intan mendapati sentuhan tangan yang mendarat tepat di pundaknya. Ia terkaget-kaget akannya. Intan menolehkan kepalanya dan mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi sedang berdiri seraya menatap wajahnya. 

“sedang apa kamu? Dari tadi saya memanggilmu tak ada jawaban sedikitpun” ujar Ilham. Ia adalah satu-satunya orang yang ingin menemani Intan. 

“hmmm…” jawab Intan mendongak, seraya dengan wajah yang lemas. 

Mendengar jawaban dari Intan,, Ilham pun baru saja menyadari dengan apa yang telah dilakukannya. Sudah menjadi hal yang wajar kalau Intan tidak bisa mendengar ataupun menyahut panggilan dari orang lain. Ilham pun berbicara seraya dengan menggerakkan tangannya tanda isyarat kepada Intan yang dimaksudnya. „Intan sedang apa kamu?‟

Intan pun membalasnya dengan senyuman manis yang melekat di bibirnya. Dan ia melanjutkannya „aku sedang tidak melakukan apa-apa. Sejak kapan kamu ada di rumahku?‟. Ilham agak kebingungan dengan apa yang Intan isyaratkan kepadanya. „aku tidak mengerti apa yang kau isyaratkan, bisakah kamu menuliskan apa yang ingin kamu katakan?‟ isyarat Ilham.

Saat Ilham mengambil secarik kertas untuk menuliskan perkataan dari Intan. Ia mendapati tumpukan kertas yang berisi kata-kata yang indah. Ia melihat sederet tulisan tepat berada paling atas dari tumpukan tersebut dengan judul “aku ingin bebas” yang merupakan salah satu karya Intan. Ilham mengambil tulisan tersebut dan membacanya dengan suara pelan. Kata-kata yang indah dan puitis membuat Ilham terharu akannya. Dia tidak menyangka bahwa selama ini Intan selalu menuliskan apa yang ia alami ke dalam secarik kertas kosong yang tidak akan disangka oleh siapapun. Tulisan itu berisi harapan-harapan Intan dari apa yang ia alami selama ini.

“Intan apakah ini milikmu?” tanya Ilham, sambil menggerak-gerakkan tangannya. Menandakan suatu isyarat. 

Intan menganggukan kepalanya. ‘mengapa kau tanyakan itu?’ 

‘isinya sangat indah, tak ada seorangpun yang bisa melebihi karya seperti ini. Ini adalah suatu anugerah yang alami datang dari Tuhan’. 

Suasana hening diantara mereka, sesaat setelah Ilham meminta kepada Intan untuk mengirimkannya ke sebuah redaksi. 

Hari baru telah tiba. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Intan menyambut senyuman dari matahari yang memesona. Wajahnya yang sangat ceria seakan memecah keterpurukan dari pengalaman yang telah ia alami. Embun-embun yang berjatuhan seakan membawa pesan kebahagiaan baginya. Tak ada sedikitpun hal yang membuat hatinya terlarut akan kesedihan. Salam manis yang datang dari bunga-bunga yang bermekaran disambutnya dengan senyuman manis dari bibirnya. 

Hari ini adalah hari yang sangat indah baginya. Hari dimana Intan kecil yang selalu menangisi kekurangannya menjadi hari yang tidak akan pernah dimiliki oleh siapapun. Intan diundang oleh salah satu acara talk show di Amerika yang dibintangi oleh salah satu selebriti papan atas dunia, yaitu Oprah Winfrey. Seorang Host kelas kakap dan namanya juga terdaftar ke dalam deretan artis terkaya di dunia. 

Tak pernah menyangka, sejak tulisannya yang dikirim oleh Ilham beberapa bulan yang lalu. Sekarang ia telah menjadi maestro sastrawan termuda di dunia. Tulisannya telah diakui oleh beberapa redaksi besar di dunia. Bahkan tulisannya yang sempat dibaca oleh Ilham pertama kali telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Memang, tidak akan ada orang yang menyangka bahwa seorang wanita yang selalu dianggap lemah, kini menjadi sosok yang melebihi dari kodrat manusia yang dianggap sempurna. 

Ini adalah kisah tentang seorang wanita tunaganda yang bisa melebihi kemampuan orang yang dianggap sempurna. Kisahnya yang sangat getir telah membuatnya terduduk di depan layar komputer untuk menuliskan kisah yang tak pernah dilupakan. 

Ini adalah kisahku, kisah dari seorang Intan yang hanya ditemani seorang laki-laki yang sudi menyertai hidup kelamku dan menerimaku untuk menjadi pendamping hidupku. Ia juga telah menyulap hidupku menjadi seorang Intan yang disegani dan diakui oleh mata dunia. Ini adalah kisahku yang berawal dari pena-pena kecil yang selalu menjadi teman hidupku.

MERAIH MIMPI

Editor: Novianita Sari
Oleh : Novianita Sari 

Terlihat gadis remaja yang bernama Dinda duduk dibawah pohon rindang. Ia berteduh sejenak sembunyi dari sinar matahari dibawah pohon tersebut. Deruan nafasnya begitu cepat, keringat pun bercucuran deras. Ditangannya terdapat raket yang kumuh yang ia genggam. Gadis ini selalu berlatih bulu tangkis di lapangan kecil yang tak jauh dari rumahnya. 

Sehabis ia berlatih bulu tangkis, ia kembali pulang kerumah dengan berjalan kaki. Dinda memang terlahir dari orang yang tak punya. Orang tuanya pun tak mampu membelikan sepeda untuknya. Namun, ia begitu semangat belajar. Di sekolah, ia terkenal dengan julukan “smart girl”. Dinda juga di tunjuk mewakili sekolahnya di ajang “bulu tangkis terbaik se – indonesia” karena bakatnya sudah begitu banyak yang mengetahuinya, terutama guru-guru di sekolahnya. 

Keesokan harinya, ia bersiap berangkat sekolah dengan membawa keranjang yang berisi kelepon buatan ibunya. “Nak! Ini kue keleponnya” ucap sang ibu yang menghampiri Dinda sambil memberi keranjang itu pada Dinda. “iya bu. Ya sudah bu, Dinda pamit berangkat sekolah dulu” pamit Dinda pada sang ibu sembari mencium punggung tangannya. 

Seperti biasa, Dinda selalu membawa kue dan bermaksud menjajakannya di sekolah. Ini merupakan penghasilan yang bisa membantu sang ibu semenjak ayahnya meninggal 1 tahun yang lalu. Kelepon ini pula yang bisa menghidupi keluarganya hingga sekarang. Sesampainya Dinda di sekolah, teman- temannya pun menunggu kehadiran Dinda berniat untuk membeli kue tersebut. Saat teman-temannya sedang asyik menikmati kelepon buatan ibu Dinda. Datang Silvi dan Nana menghampirinya dan membully Dinda habis-habisan. “Dasar orang miskin, ngakunya atlet tapi gak kuat beli raket. Kemana-mana selalu bawa raket kumuh dan makanan kampungan kayak gini. Iyuuhh banget” ucap mereka mengejek sambil berkipas-kipas. Dinda biasa dengan cacian seperti itu. Ia pura-pura tak mendengar walau ia tau itu begitu sakit didengar. Tiba-tiba datang pak David guru badminton tersebut memberi tahu bahwa perlombaan badminton tersebut diadakan besok. Diapun tersenyum lebar mendengarnya. Ia menjadi bersemangat menjajakan keleponnya di tiap-tiap kelas walaupun banyak teman yang menghinanya, membuli, dan mencaci, namun Dinda tetap berjuang sembari membawa raket kumuh miliknya. 

Sepulang sekolah, ia segera berlari menuju lapangan kecil yang selalu digunakan latihan badminton Dinda dan teman-temannya. Saat Dinda berjalan menuju lapangan, tiba-tiba Dinda di tegur oleh beberapa orang disana. “Dinda! Mau kemana? Mau badminton lagi?! Ha…ha…ha… gak usah buang-buang tenaga Din, paling-paling kamu juga jualan kelepon lagi. Meneruskan bisnis dan perusahaan ibumu itu ha…ha…ha…” ucap salah satu seseorang itu diselingi tertawanya yang tak pantas. Namun Dinda hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanannya menuju lapangan. Sesampainya di lapangan Dinda segera duduk di bawah pohon sambil mencerna kembali kata-kata yang dilontarkan orang tadi. Ia pun menjadikan ejekan tersebut sebagai dorongan untuknya menuju kesuksesan. 

“Aku harus berusaha. Aku harus tunjukkan pada mereka bahwa aku bisa” ucap Dinda yang menyemangatkan diri sendiri. 

“Dinda.. ayo latihan” terdengar teman Dinda memanggil dan mengajaknya untuk berlatih bulu tangkis. Diapun segera menuju lapangan untuk berlatih. 

Malam harinya Dinda mempersiapkan persiapan untuk pertandingan besok. Tiba-tiba ibu Dinda batuk-batuk. Dinda pun segera menghampiri ibunya yang berada di kamar. 

“Bu, ibu kenapa? Ibu sakit?” tanya Dinda sembari memijat kedua pundak ibunya. 

“Ya, tapi hanya terbatuk saja nak.” Tegas sang ibu. 

“kalau begitu, aku akan mundru dipertandingan besok bu. Aku akan menjaga ibu sampai ibu sehat” ucap Dinda dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. 

“jangan nak, jangan khawatirkan ibu. Jika kamu mundur dari pertandingan itu, itu yang membuat ibu sakit. Lagipula ini juga peluang untuk kamu menjadi seorang atlet badminton” jelas sang ibu yang membuat Dinda berfikir. “tapi bu….” Dinda mengkhawatirkan keadaan ibunya. “sudahlah, ibu baik-baik saja”, tukas sang ibu. 

“baik bu jika itu keinginan ibu. Dinda akan ikut pertandingan itu besok. Dinda akan buat ibu bangga!” ucap Dinda memeluk ibunya sebentar. 

“bagus. Tapi maaf ibu tidak bisa ikut. Ya sudah, kamu istirahat dulu agar pertandinganmu esok lebih maksimal” perintah sang ibu yang lalu dilaksanakan oleh Dinda.